Dirinya juga menampik isu berseliweran bahwa alasan memilih pemimpin harus sesama suku, misalnya isu soal atoin meto dan atoin mone.
Wilayah Kabupaten Kupang kata dia memiliki kemajemukan etnis dengan kekerabatan yang kental karena faktor kawin mawin, sehingga tidak elok rasanya bila ada pihak yang mengklaim meraup keuntungan politik dari etnis tertentu.
“TIROSA ini sudah sejak lama, dari awal berdirinya daerah ini. Daerah ini ada karena kolaborasi lintas etnis, ada orang dari etnis sabu, Rote, belu terpilih menjadi anggota DPRD pada Pemilu 2024, jadi tidak elok kalau kita bawa isu suku,”ungkapnya.
Dirinya mengajak seluruh rakyat agar memilih pemimpin bukan atas dasar etnis, tetapi berdasarkan gagasan yang konkret dan realistis untuk membangun daerah.
Kabupaten Kupang sesuai peraturan pemerintah telah ditetapkan sebagai salah satu daerah tertinggal di Indonesia, hal ini mesti menjadi tolak ukur memilih pemimpin baru. Memilih berdasarkan suku akan menyumbang kegagalan pembangunan. Multi etnis sebagai kekuatan pendorong memajukan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau kita bicara sukuisme maka kita mundur 1000 langkah, ada banyak suku di sini, para pemimpin sebelumnya juga dari etnis lain,”tambahnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












