Wilayah NTT mempunyai cuaca yang ekstrim dengan musim kemarau lebih lama dibandingkan musim hujan sehingga dapat menyebabkan kekeringan di beberapa tempat.
Musim kemarau yang panjang juga dapat menimbulkan titik panas/hotspot yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, disamping juga disebabkan oleh faktor manusia. Sehingga kebakaran hutan dan lahan akan berdampak buruk bagi perekonomian masyarakat dan memicu perlambatan ekonomi daerah.
Kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan serius yang selalu berulang setiap tahunnya. Provinsi NTT memiliki kawasan hutan seluas 1.784.751 ha atau 37,69 %.
Pemerintah menempatkan penanggulangan Karhutla sebagai prioritas utama untuk segera diantisipasi dan ditanggulangi. Walaupun di provinsi NTT jumlah titik api/hotspot tidak sebanyak di wilayah kalimantan dan sumatera, namun sesuai dengan pantauan BMKG NTT jumlah titik api mengalami peningkatan signifikan dan hotspot yang tersebar di pulau timor, flores dan sumba yang berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Data kebakaran hutan dan lahan di NTT periode tahun 2018 total luas lahan yang terbakar sebanyak 57.428 ha, tahun 2019 sebanyak 139.920 ha dan tahun 2020 total luas lahan yang terbakar sebanyak 114.719 ha.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












