“Kita berbatasan langsung dengan TTS, saat kejadian pertama di sana harusnya kita juga sudah siap semua termasuk ketersediaan Vaksin Anti Rabies,”bebernya.
Mirisnya lagi, tempat penyimpanan vaksin tidak disediakan sehingga stok vaksin pun tidak tersedia. Jatuhnya korban jiwa akibat virus berbahaya ini menunjukkan bahwa pemerintah terlambat dan gagal penanganannya.
Vaksin kata dia sesuai penjelasan dinas terkait hanya tersedia di Puskesmas Naibonat, Oesao dan Camplong, sementara kasus terjadi di luar wilayah pelayanan tiga Puskesmas ini. Artinya pemerintah dengan sengaja mempercepat kematian warganya sendiri.
Deasy Ballo-Foeh heran mengapa vaksin tidak tersedia di semua Puskesmas, padahal nyatanya sudah ada korban jiwa.
Pada kesempatan tersebut Dessy Ballo-Foeh juga meminta agar para awak media dapat menyebarkan berita terkait Virus Rabies secara masif kepada masyarakat Kabupaten Kupang.
“Teman teman media tolong terus publikasi soal ini agar lebih banyak yang tahu. Semoga berita ini tidak tertutup berita jelang pilkada. Perbanyak berita soal virus rabies ini”, harapnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
