Pergilah ke dusun-dusun, masuklah ke hutan-hutan, lihatlah rakyatmu yang hidup dari pertanian. Lihat bagaimana anak-anak mereka tanpa pendidikan, tanpa sandal keadilan, tanpa sekolah, tanpa guru tanpa masa depan.
Lihat baik-baik seperti apa cita-cita seorang anak petani, yang disiksa oleh keadaan dan dibunuh oleh janji-janji kesejahteraan. Lihat bagaimana rakyatmu yang ditipu oleh investor-investor, semudah memberi gula-gula pada anak-anak. Sambil kau mesti ingat…!!! sekarang rakyatmu adalah keluargamu. Anak mereka adalah anakmu. Anak petani adalah anakmu. Anak nelayan adalah anakmu. Anak jalanan adalah anakmu. Anak panti asuhan adalah anakmu. Anak cacat adalah anakmu. Janda adalah istrimu. Lansia adalah orang tuamu. Orang gila adalah kewarasanmu. Kau bukan lagi milik anak istrimu, melainkan milik nusa cendana wangi, Flobamora.
Kau mesti rela, menginjak lumpur kehidupan. Menginjak tanah kotor. Kemewahan mu mulai sekarang adalah kebahagiaan rakyatmu, kemewahan keluargamu mesti menjadi keadilan bagi rakyatmu.
Lalu, pergilah ke gunung-gunung. Lihat rakyatmu yang saban hari mati. Bayi-bayi yang mati sebelum sempat melihat Flobamorata. Tanpa bidan, dokter, tanpa ada bangunan puskesmas. Lihat perempuan-perempuan tangguh, yang berjalan berkilo-kilo meter dan mati sebelum mendengar tangis pertama anak mereka. Keadilan masih jauh, bagi mereka yang hidup tanpa listrik, tanpa akses tranportasi, tanpa pendidikan dan jaminan kesehatan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












