
“Oleh karena itu saya undang masyarakat agar memberikan pertimbangan, saran dan pendapat,”ujarnya.
Mulyati selaku Pemilik Usaha menyampaikan bahwa sesuai rencana, dirinya akan membangun rumah tempat tinggal sekaligus usaha rumahan pembuatan kerupuk kulit berbahan utama kulit sapi.
Mulyati saat mendapatkan berbagai pernyataan dari masyarakat, ia beralasan jika usaha yang akan digelutinya itu tidak akan mencemari lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, beberapa orang perwakilan masyarakat yang diberikan kesempatan menyampaikan pendapat secara tegas menolak pembangunan rumah yang akan digunakan sekaligus sebagai tempat tinggal maupun tempat usaha.
Alasan utamanya kata masyarakat adalah lokasi tersebut merupakan lahan pertanian atau lahan sawah yang menjadi sumber utama mata pencaharian sebagai petani. Yang ditakutkan adalah pabrik kulit akan merusak lahan sawah akibat limbah yang terbuang akan merusak lahan sekitarnya.
“Lokasinya tepat berada di tengah sawah milik warga, kalau dibiarkan pasti limbahnya akan merusak sawah kami, lalu kami mau makan apa, sehingga kami secara tegas menolak,”ungkap masyarakat yang hadir.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












