Selain kondisi gedung tidak layak, sarana dan prasarana pendukung lainnya pun tidak dimiliki. Hal ini disiasati dengan menciptakan metode pembelajaran yang menyenangkan baik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Kendala terbesar yang dialami selama proses KBM setiap hari yakni ketiadaan sarana prasarana pendukung seperti bahan ajar, alat peraga serta sarana prasarana pendukung lainnya.
“Sekolah ini sudah berkali-kali ajukan proposal tapi sampai hari ini belum ada jawaban, saya sudah koordinasi dengan dinas terkait dan jawabannya DAU dan DAK tahun ini tidak ada, alasannya bahwa dengan adanya covid maka semua dana dialihkan ke covid,”ungkapnya.
Dian Rini Bees Guru Bidang Studi Bahasa Inggris mengaku telah mengabdi di SMPN 13 Fatuleu sejak awal berdirinya sekolah sejak 04 Juli 2018 silam.

Menurutnya tiga ruang kelas dibangun oleh masyarakat setempat dengan cara swadaya, semua disuplai oleh masyarakat setempat. Cikal bakal berdirinya sekolah ini sebenarnya sejak tahun 2016. Setelah usai dibangun tahun 2018, sekolah ini hanya memiliki 1 rombongan belajar.
“Tiga ruang kelas ini yang dibangun masyarakat, ini swadaya dari masyarakat. Kami beberapa orang guru yang masak untuk masyarakat kerja ini gedung, pemerintah tolong bantu kami para guru dan anak – anak bangsa yang kami didik,”ujarnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












