Hal senada diungkapkan oleh Bobby Petan tokoh pemuda Nauen. Seluruh dana yang terkumpul dari urunan masyarakat serta sumbangan dari anak – anak perantau asal Dusun III Nauen. Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli dan mengangkut material ke lokasi pekerjaan.
Pekerjaan jalan sepanjang sembilan kilometer berawal dari konsep pemikiran 9 orang tokoh pemuda yang menetap di Kota Kupang. 9 orang tokoh pemuda itu berpikir tentang cara membangun kampung halamannya yang tidak tersentuh pembangunan.
“Nauen belum merasakan kemerdekaan, belum ada perubahan. Kita merantau ke luar daerah melihat dan memantau daerah lain, setelah pulang, Nauen sendiri tidak ada perubahan sama sekali,”ucap Bobby Petan.
Menurutnya, melalui hasil pengamatan di negeri orang, pemuda berinisiatif bekerja secara gotong royong dengan dana yang dikumpulkan dari masyarakat dan perantau. Setelah konsep tersebut, dilakukan gerakan penggalangan dana kepada anak-anak Nauen di perantauan.
Pekerjaan yang paling berat kata dia, yakni pengecoran jalan sekitar 100 meter. Sebab, pengecoran ini membutuhkan anggaran yang besar untuk material berupa pasir dan semen. Berbeda dengan kubangan 70 persen telah dikerjakan atau ditutupi.
Bobby juga meminta agar Pemerintah, baik itu pemerintah Desa, Kabupaten Kupang dan pemerintah Provinsi NTT dapat memperhatikan jalan penghubung antara Kecamatan Fatuleu Barat dan Kecamatan Sulamu yang melintasi Dusun III Nauen, Desa Poto.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












