Kasus Pengeroyokan di Desa Bipolo, Korban Mengaku Diikat Dalam Rumah Milik Oknum Kepala Sekolah

Reporter : Jermi Mone Editor: Redaksi
IMG 20240621 221022
Salah satu korban yang tergeletak tidak berdaya setelah dikeroyok sejumlah orang.

Para korban mengisahkan, mereka diikat berjam-jam lamanya dan baru dilepaskan ikatan sekitar pukul 04.00 subuh namun tidak disuruh pulang. Sang Kepala Sekolah memerintahkan para orang tua korban datang untuk berbicara dan menyelesaikan secara adat.

Laporan Polisi

Saat itu, ketiga orang korban bersama orang tua menghadap sang Kepala Sekolah dirumahnya dan dalam pembicaraan itu para korban awalnya diminta mengganti kerugian sekitar Rp.50 juta plus 50 kilogram beras dan satu ekor babi.

“Yang perintah agar kami diikat itu bapak DM dan dia sendiri yang ikat sambil bilang nanti polisi datang dia yang hadapi, saat itu pak kepala juga lihat dan tau tapi diam saja,”ujar keduanya.

Setelah terjadi tawar-menawar maka disepakati nilai Rp. 5 juta plus 1 ekor babi dan 50 kilogram beras. Kesepakatan itu kemudian tidak terlaksana lantaran para korban memilih melaporkan kejadiannya ke Polres Kupang tanggal 14 April 2024.

Sementara itu, oknum kepala sekolah berinisial IM yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Sabtu (22/06) malam mengaku dirinya juga menjadi korban, saat kejadian dirinya ikut dipukuli.

Sang kepala sekolah membenarkan jika tiga orang tersebut benar-benar diikat dalam rumahnya. Tetapi dirinya membantah jika korban dipaksa makan nasi basi atau sisa makanan orang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com

+ Gabung

Exit mobile version