Selanjutnya masuk perguruan tinggi adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin karena kondisi ekonomi keluarga. Semua teman seperjuangan SMA-nya bercerita bahwa mereka akan kuliah di sini dan di situ, namun dirinya hanya terdiam karena tidak yakin akan kuliah.
Satu-satu yang ada dibenaknya adalah harus kuliah dengan ketentuan bahwa harus merantau ke Malaysia ataupun Kalimantan untuk kerja di sana kemudian kumpul uang dan pulang untuk kuliah.
Setelah itu kedua orangtuanya sepakat untuk dirinya kuliah dan niat merantau dibatalkan. Sikap nekat ayahnya harus beralih dari seorang petani menjadi seorang penjual sirih pinang dengan modal Rp 50 ribu demi membiayai sekolahnya saat di SMP. Pilihan ayahnya sebagi penjual sirih pinang itu sulit dan menjadi kisah saat Alfret Otu menjadi mahasiswa di Politeknik Negeri Kupang.
Dia mengisahkan, suatu waktu tidak pernah memiliki beras, minyak tanah dan uang, kekurangan itu dialami berulang kali di kosnya hingga wisuda. Kejadian itu sering dialami dan menjadi hal biasa baginya dan itupun berlalu hingga dia berhasil menjadi alumni S1 pariwisata.
Dia harus berjuang mencari kerja mewujudkan impian lanjut S2, bagaimanapun itu, tekadnya itu harus dicapai.
Setelah bekerja beberapa tahun menjadi seorang jurnalis salah satu media cetak di Kupang, dia berhasil menabung uang untuk lanjut studi meskipun harus juga menjadi tulang punggung bagi kedua adiknya yang juga sementara kuliah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
