Sejujurnya aku akui, aku yang paling bersalah atas kekacauan dalam hubungan kita, karena aku bersikukuh dengan prinsip bahwa cinta tak boleh menyeret aku pada harapan semu yang pada akhirnya membuatku terabaikan.
Aku memilih menjalin hubungan kita tanpa harapan besar untuk mengarungi kebahagiaan bersama di akhir kisah kita. Aku tetap dengan pemikiran ini tanpa aku sadari seiring waktu berjalan sikapku ini merubah diriku menjadi pribadi yang egois dan perlahan menjauhkan ku darimu.
Sikapku memicu adanya jarak diantara kita dan semakin jauh. Aku lelah, dan kau pun lelah dengan hubungan kita yang tak lagi searah dalam tujuan yang kita impikan dan pada akhirnya kita pun asyik dengan hidup kita masing-masing hingga kita tak lagi peduli dan mengindahkan hubungan yang telah kita bina.
Kita pun tak tahu kapan terakhir kalinya kita benar-benar menjadi pasangan yang saling memahami, mendukung dan saling tersenyum memberi support ketika kita sibuk dengan dunia kita sendiri.
Harus kuakui, pada saat tertentu aku merindukan hari-hari indah yang pernah kita ukir bersama, Di waktu rindu itu ada, terselip hasrat hati untuk kembali melangkah mendekat pada hubungan kita yang renggang dan berharap kita dapat menyelesaikan semua masalah dan perbedaan diantara kita dengan kedewasaan hati dan pikiran yang lebih bijak.
Namun, itu hanyalah keinginan sesaat yang pada akhirnya egoku mematahkan hasrat sendiri. Harus ku akui juga rasa sedih dan rindu menjadi bagian yang sangat menyiksa hidupku sendiri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Kabar-Independen.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
